“Penting sekali memastikan bahwa pelaku UMKM di Bali ikut terlibat dan merasakan manfaat langsung. Jangan sampai KEK ini hanya menjadi enclave yang eksklusif, tetapi harus tumbuh bersama masyarakat sekitarnya,” katanya.
Ia menambahkan, aspek keberlanjutan dan integrasi juga menjadi kunci. Menurutnya, konsep health and tourism destination yang diusung KEK Sanur harus benar-benar dijalankan dengan standar internasional agar Indonesia bisa bersaing dengan destinasi medis di Singapura atau Malaysia.
Baca Juga:
Enam Kawasan Ekonomi Khusus Baru Menunggu Persetujuan Presiden Prabowo
“Kita harus berani bersaing dalam kualitas layanan, bukan sekadar menjual keindahan Bali,” pungkasnya.
Sebelumnya, Direktur Utama PT Aviasi Pariwisata Indonesia Maya Watono menyebutkan bahwa KEK Sanur diproyeksikan mampu menambah devisa negara hingga Rp19,6 triliun serta menyerap lebih dari 18 ribu tenaga kerja hingga tahun 2045.
Hal senada juga disampaikan Direktur Utama InJourney Hospitality Christine Hutabarat, yang optimistis bahwa KEK Sanur akan memberikan efek berganda pada PDB nasional senilai Rp80,7 triliun serta menyerap investasi hingga Rp20 triliun.
Baca Juga:
PLN Tegaskan Komitmen Dukung Pertumbuhan Industri Lewat Penandatanganan PJBTL di HLN ke-80
[Redaktur: Sobar Bahtiar]