Sri Mulyani menjabarkan, pertama, penentuan siapa yang akan menjadi chairman dari Bank Sentral AS, Federal Reserve.
Kedua, polemik perdebatan kenaikan batas utang atau debt ceiling di AS.
Baca Juga:
Purbaya: Usulan Anggaran MBG 2027 Rp174 Triliun Masih Dibahas
Sebab, jika tidak diterapkan, AS terancam tidak bisa membayar utangnya.
"Dan juga inflasi sangat tinggi di atas 6% di AS yang akan menimbulkan komplikasi pada kebijakan di sisi moneter dan kecepatan dan kekuatan tapering yang akan dilakukan Amerika Serikat," tambahnya.
Baca Juga:
Pemerintah dan DPR Resmi Bahas RUU Pusat Finansial Internasional Indonesia
Hantu dari Eropa
Tak hanya di AS, hantu pasar modal juga muncul dari Eropa.
Kawasan itu saat ini tengah menghadapi kenaikan harga energi dan juga masalah geopolitik.