Bali.WAHANANEWS.CO, Denpasar - Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar, Bali, mengklaim berhasil menekan angka kawasan kumuh di wilayahnya.
Salah satu faktor utama keberhasilan ini adalah implementasi program Sistem Informasi Penataan Pelemahan Berbasis Semeton Lembaga Adat (Siap Selem).
Baca Juga:
Wali Kota Gunungsitoli Beberkan 5 Program Prioritas di Paripurna DPRD
Program ini digagas oleh Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (Perkimta) Denpasar dan mulai diterapkan sejak 2023.
Siap Selem merupakan Sistem berbasis information technology (IT) yang dirancang untuk mencegah terbentuknya kawasan kumuh baru, sekaligus menata kawasan kumuh yang sudah ada.
Menurut Kepala Dinas Perkimta Denpasar, I Gede Cipta Sudewa Atmaja, luas kawasan kumuh di Denpasar semula tercatat mencapai 50 hektare.
Baca Juga:
Sebagai Salah Satu SMV Kemenkeu, PT SMF Sulap Kawasan Kumuh Jadi Rumah Layak Huni di Surakarta
Namun, melalui penerapan Siap Selem, luas tersebut berhasil ditekan menjadi sekitar 17,6 hektare, yang tersebar di wilayah Karya Makmur, Ubung Kaja, dan 1 hektare di Pemecutan Kaja.
"Saat ini, total kawasan kumuh yang tersisa hanya sekitar 18 hektare. Kami optimistis, dengan kerja sama yang solid antara pemerintah, desa adat, desa dinas, serta masyarakat, kawasan kumuh di Jalan Karya Makmur dan Pemecutan Kaja dapat sepenuhnya dituntaskan pada akhir tahun 2025," kata Cipta Sudewa melalui siaran pers dikutip Sabtu (5/4/2025).
Program Siap Selem menekankan peran kolaboratif desa adat dan desa dinas dalam menciptakan lingkungan yang bersih, tertata, dan nyaman.
Selain menanggulangi kawasan kumuh yang telah ada, sistem ini juga berfungsi sebagai early warning system berbasis IT, guna mendeteksi dan mencegah potensi munculnya area kumuh baru.
Setiap desa dan kelurahan, termasuk desa adat, memiliki admin yang bertugas memantau kondisi lingkungan dan melaporkan potensi kawasan kumuh.
Laporan ini kemudian ditindaklanjuti oleh operator dari Dinas Perkimta Denpasar yang berperan sebagai super admin.
Cipta Sudewa menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak lepas dari budaya gotong royong dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Dengan pendekatan berbasis teknologi dan nilai-nilai lokal, Denpasar terus berupaya mewujudkan kota yang tertata dan bebas dari kawasan kumuh.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]